[10/12/2005 9:45 PM]
....kupu malam by Titiek Puspa, voc: Ariel
Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
Pagi hingga siang tadi memelototi beberapa ratus halaman pertama dari The Name of The Rose terjemahan Indonesia dari Eco (milik mas igun..) yang dianggap beberapa kalangan sebagai sebuah karya besar abad ini. Pada akhir tulisan ini saja, pendapatku bakal tertuang. Kisah ini bercerita seputar pergelutan di dunia gereja abad 13-14 di daerah Italia. Terkisah sosok 'aku' bernama Adso sebagai teman langkah dari William sang detektif dan burder jenius. Latar ceritanya di sebuah biara besar dan kaya yang punya perpustakaan 'terlengkap' di dunia kristiani pada saat itu. Kematian yang sampai pada akhir cerita menimpa 7 orang pada 7 malam berturut-turut adalah alur utama yang melibatkan 'aku' dan William. Masalahnya terkait dengan 'kerahasiaan' ruang perpustakaan yang berbentuk labirin yang akhirnya terpecahkan juga dan menjadi inti dari buku setebal beberapa ratus halaman ini. Ternyata kematian yang pada beberapa kematian awal adalah karena racun, mempunyai ujung penyelamatan buku atau manuskrip karya Aristoteles yang dianggap menyesatkan oleh si Jorge, sang buta tua pengendali biara. Ada konflik dunia gereja yang diungkapkan dan melibatkan beberapa tokoh cerita, yang kebanyakan akhirnya jadi korban penyelamatan buku ini. Pada akhirnya, cerita ditutup dengan terbakarnya biara dan perpustakaannya bersama si Jorge yang sempat menyelamatkan buku Aristoteles dengan memakannya. Tragis...meski kejadian tersebut tak lepas dari kesalahan William, yang akhirnya pergi lari dari biara bersama 'aku'.
Alur cerita sebenarnya agak bisa ditebak, dari awal buku telah menceritakan tentang buku yang misterius tersebut. Namun mode penceritaan situasi dunia gereja saat itu, menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini. Terus terang, cara pengarang bercerita agak kurang kusukai. Kadang berlebihan dalam menceritakan sesuatu, seperti lukisan/ornamen pintu dll. Membosankan. Mending seperti Da Vinci Code, lebih jlep-jlep atau to the point. Di sisi lain, dunia ilmu pengetahuan Islam lumayan diangkat dengan berbagai pujian dari cerita ini. Karya-karya terbesar Al Khawarizm, Al Kindi dll disebut-sebut sebagai hasil besar umat manusia.
Bosan akibat terlalu 'ngaco' dalam menceritakan sesuatu, membuat hanya beberapa bab depan (sekitar 250 halaman) saja yang kubaca, langsung sambung ke bab terakhir, tepatnya pada saat malam terakhir atau pada saat kasus berantai itu dipecahkan. Dan sepertinya sedikit bagian yang hilang dari cerita ini hanya dengan menggunakan metode membacaku yang 'wagu'.
Terus terang lagi, mending baca cerita Nogososro dan Sabuk Intennya SH. Mintarjda kok. Lebih enak, ga berat dan unsur sastranya meski sedikit, tetap ada. Memang The Name of The Rose ini karyanya berat, baik isi maupun materiilnya.:D. Ada buku lain sebagai 'Key' buku ini, dan kayaknya malas kubaca. Hiks...
- bandoro
Thursday, October 13, 2005
The Name of The Rose.....[payah]
Oleh suBandoro pukul 3:03 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
halo band,
aku punya loh buku itu, dan sampe sekarang memang belum tamat bacanya, beberapa bab aja puyeng.
beli buku di tobucil buat "biaya membina hubungan baik" buat tugas SI jaman jebot
mending nonton filmnya yang pastinya aga-aga terjemahan bebas, yang maenin mentor tokoh "aku" adalah Sean Connery. lainnya ga terkenal kayanya.
yo wis lah
Heeh Pink, marai mumet. Film-e ada donlod-an di rileks ga ya?:D
Post a Comment