Tuesday, November 15, 2005

Takbir berkumandang...dung...tak...dung


Takbir berkumandang...dung...tak...dung

Sore tadi, bulan suci Ramadhan telah 'oncat' meninggalkan begitu banyak harapan dan rintihan bagi sebagian orang. Yap, harapan untuk menyambut esok yang lebih baik, dan rintihan bagi sebagian orang lagi akan bayangan hari esok yang entah ada atau tidak, paling tidak bayangan untuk memakan tiga suap nasi (pagi, siang dan sore). Hari 1 Syawal (tahunnya lupa..:D) telah datang berbarengan sahutan dari mesjid-mesjid untuk kebesaran Allah Yang Maha Besar, berbarengan dengan rasa 'aneh' yang selalu menyambut hariku. Rasa gembira...gembira gimana gitu. Makplong, nek orang jawa bilang. Ntah 'makplong' dari apa, aku juga tak tahu.

Tradisi semi 'ibadah' takbiran keliling baru memulangkan aku dengan berbekal camera A400 yang susah diajak kompromi untuk kondisi gelap. Pait. Tapi paling tidak, ada rasa yang kunanti terbayar, rasa akan tradisi yang belum pernah aku lewatkan sekalipun dari kecil, tradisi berkumpul berkumandang sedusun, tradisi yang pasti 'aneh'. Di duniaku yang sepertinya sudah 'tak terjangkau' oleh sahabat-sahabat desaku, yap, dunia penuh gemerlapan teknologi, aku masih bisa bertahan untuk bercampur dengan sahabat-sahabatku. Ga bakal aku sebutin satu persatu, intine sakdusun tak kenal kabeh.:D

Dhar...dher...dhor mercon 'lombok' kerasa mengganggu paling tidak bagiku dan beberapa orang 'dewasa' hingga muncul satu kalimat hardikan 'Bajingan, sopo sik ngeyel kui? Meneng!!'. That is ok, guys. Tur jan-jane saake wong sik tuo-tuo.

Beberapa hal yang masih terjaga tradisi takbiran di tempatku, masjid al-qiyamu buyutan, kurang lebih seperti ini:
1. Masyarakat sedusun (Buyutan), tua-muda, ikhwan-akhwat berkumpul di masjid untuk takbiran keliling.
2. Rute yang diambil dari dulu tak berubah, mesjid ke selatan, protelon wit waru ngetan, ngampiri Dayu Lor ne Pak Rawan, ngampiri Kenteng di mesjid, ngalor, dalan aspal kiri, terus sampai gejlik 5 ngidul, protelon (semi prapatan) ne Mbah Mardi ngetan tekan kidul mesjid meneh.
3. Teknologi takbiran keliling terdiri atas sebuah gerobak/keseran bermuatan ampli, accu, TOA, ada beberapa mic untuk memimpin takbiran. Masih diletakkan di jajaran rombongan paling belakang.
4. Pesertanya ada di kisaran seratusan anak/remaja.
5. Habis takbiran, minum sebentar, pengajian dan pengumuman, terus makan bersama.
6. Masih pakai oncor (meski agak lebih canggih) bagi anak-anak.
7. Mlakunya masih pada ngeyel, sering kebanteren, yang bersuara takbir mik sithik.
8. Makanan besar sisa, dan malem-malem harus jalan-jalan mubeng dusun membagi makanan tersebut.
9. Pusat persiapan kegiatan ada di tempate Pakdhe Budi.

Namun ada beberapa hal yang berubah, paling tidak dalam beberapa tahun ini:
1. Anak mudanya semakin banyak yang ga nggenah, sakkarepe dhewe, dan ini efeknya banyak.
2. Makanan telah semakin modern, dus-dusan, ga cuman pakai daun pisang.
3. Penerangan takbiran keliling yang dulu pakai petromax minyak tanah, diganti pakai lampu listrik charger-an.
4. Perubahan lain yang kelupaan.:D.

Perubahan nomer 1, menimbulkan efek parah di kegiatan lain seperti:
1. Pembagian zakat semakin kacau balau, meski akhirnya beres jua.
2. Kegiatan romadhon yang lain spt pengajian anak kecil, pengajian remaja jan ra maen. Bubar.
3. Penyediaan makanan takbiran, butuh uluran tangan ibu-ibu. Saake to mbak....

Tapi paling tidak, aku masih bangga dan 'ngeh' rindu pada situasi seperti tadi dan yang akan datang. Situasi yang ga bakal ada di kehidupanku di Bandung. Thanks tuk semuanya, tuk desaku dan masyarakatnya. Bantul...Buyutan!

Akhir kata,

Ketupat sayur dimasak bareng bihun
Dimakan 'mangap' banyak kuahnya

Kathah lepat di satu tahun
Mohon maap sebesar-besarnya

Minal Aidzin wal Faidzin, selamat datang pintu maaf
Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kuasa-Nya
Untuk menerima semua amal ibadah dan cita maaf kita.

- Buyutan, 1 Syawal 1426 Hijriah (akhirnya ketemu tahunnya)
- Bandoro

No comments: