Thursday, September 29, 2005

Menyorot soal BBM

Menyorot soal BBM

Demo massal rencananya dilaksanakan hari ini. Ga tahu siapa yang demo, yang jelas adalah sebagian kecil mahasiswa yang kadang merasa mempunyai pikiran perbaikan bangsa. Ada benernya dan ada tidaknya. Jan-jannya (menurutku), mahasiswa hanya sebatas penyeimbang pemerintah, memprotes, kritik, maki-maki bahkan sering dengan emosi bukan dengan otaknya. Kasus khusus sekali mahasiswa mampu menggoyahkan kebijakan pemerintah, paling2 cuma menunda pelaksanaan saja. Seperti kasus BBM sekarang dan beberapa waktu yang lalu. Biasalah anak muda, seperti Ban juga kok. Sante aja...banyak temannya.

Tapi di sisi lain, dan ironisnya juga, analisis dan usulan pemecahan masalah kadang tidak realistis dan mengada-ada. Dengan dalih kesengsaraan rakyat biasanya. Bener gitu?? Jangan-jangan dengan harga BBM naik malah Indonesia langsung makmur..:D. Tentu Ban tidak bisa mempertanggungjawabkan opini ini, cuma 'jangan-jangan'. Hidup khan isinya pertaruhan...hitungan matematis kadang malah membodohi kita. Bbrp waktu lalu ada demo anak ITB juga (ditambah bbrp elemen lain), mem-blok pom bensin cikapayang. Jan anak-anak mbel gedhes!! Uteknya ditaruh mana to mas?

Keadaan carut marut gara-gara naiknya BBM ini, spt antrian BBM di Jogja dl, 'jangan-jangan lagi' justru disebabkan kekhawatiran berlebih dari elemen-elemen yang kayak mahasiswa tadi. Masyarakat yang notabenenya 'masih' percaya pada kaum intelektual, terpengaruh oleh adanya demo dan analisis mahasiswa yang 'beberapa' acak-adul. Akibatnya, ya itu tadi...acak-adul. Itu cuma mungkin loh...sekali lagi pertaruhan. Kalau misalnya pada nrimo, terus bersama-sama membantu pemerintah dengan cara-cara yang konstruktif, ikut membagi dana kompensasi BBM, terus mewacanakan peningkatan upah bagi buruh, malah lebih bijaksana khan? Upah buruh naik, kaum borjuis menipis, pemerataan nambah baik dll, mungkin justru itu yang akan tercapai.

Herannya juga, ketika ada kebijakan pemerintah yang positif seperti kenaikan UMR, penambahan anggaran pendidikan dll, kok ga ada yang turun ke jalan dan mendukung ya? Jan, pait...

Tapi gapapa sante saja, jika itu memang peran masing-masing dan semua menyadarinya. Mahasiswa sebagai penyeimbang, pemerintah sebagai eksekutor, dan birokrasi sebagai ndlogok-ndlogoknya..:D. Sekali lagi, ben mlaku saja hidup ini, dan pandanglah sebagai sebuah kebahagiaan. Karena kebahagiaan adalah pilihan, dan masing-masing pihak telah memilih-nya.

- bandoro

No comments: